Tempat Pelepas Penat-Jelajah Budaya

Tempat Pelepas Penat-Jelajah Budaya

Jelajah Budaya merupakan program pendidikan karakter berbasis budaya (edukasi kultural) yang dikemas dalam bentuk penjelajahan situs-situs Cagar Budaya yang bersifat rekreatif, inovatif dan menantang. Jelajah Budaya diselenggarakan setiap tahun sejak 2008 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan kegiatan Jelajah Budaya yaitu menumbuhkan generasi muda berkarakter yang mewarisi nilai-nilai kearifan leluhur  yang terkandung di dalam Cagar Budaya, sehingga memiliki rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa dan peduli terhadap kelestariannya.

Jelajah Budaya yang ke-14 ini mengusung tema “Mengenali Jati Diri Warisan Budaya dan Kiprah Kasultanan Yogyakarta”, dan juga diselenggarakan untuk memperingati “Hari Bapak Pramuka Indonesia” atau “Hari Sultan Hamengku Buwono IX” setiap tanggal 12 April.

Dalam Kegiatan ini, Panitia mengadakan perlombaan dan fasilitas yang cukup bagus untuk menarik para anggota pramuka agar lebih antusias mengikutinya. Para peserta mendapatkan fasilitas kaos, tas dan piagam penghargaan, selain itu perlombaannya ialah Yel-yel, fotografi, foto selfie, sangga terbaik, sangga terfavorit.

Alhamdulillah Sangga dari Pangkalan SMAN 1 Pengasih berhasil menyabet gelar  Sangga Terbaik atau Juara II, sehingga utusan ini sangat mendapatkan apresiasi dari sekolah, dan semoga menjadi inspirasi untuk lebih baik kedepannya.

Berikut adalah hasil karya siswa :

Tempat Pelepas Penat

Tanggal 28 april 2019 lebih tepatnya Minggu, pukul 06.00 pagi. Berkumpulnya aku dan teman temanku di SMA tercinta yaitu SMAN 1 Pengasih untuk melaksanakan tugas dari sekolah. Dengan perwakilan orang orang yang hebat dalam kegiatan pramuka. Dengan 5 orang putra dan 5 orang putri, diantara perwakilan putri tersebut aku ikut di dalamya. Bangganya aku bisa ikut melaksanaakan tugas dari sekolah tersebut. Kegiatan yang akan dilaksanaakan di hari minggu itu adalah kegiatan Jelajah Budaya 2019 di Yogyakarta, dengan start Pesanggrahan Ambarbinangun, Bantul dan finish di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta.

Pukul 06.30 WIB berangkatnya aku dan teman temanku menuju Pesanggrahan Ambarbinangun, Bantul. Dengan 11 orang berada dalam satu mobil milik sekolah. Satu orang sebagai supir yang tak lain adalah pendamping kita, yaa walaupun pendamping kita tidak mendampingi kita saat perjalanan nanti. Karena kita dilatih untuk mandiri. Canda dan gelak tawa pun memenuhi mobil sekolah karena tidak cukupnya tempat duduk di dalam mobil tersebut. Akan tetapi dimuat muatkan untuk bersebelas tertawanya kita semua, sampai kita tak bisa bergerak bebas, pengalaman lucu yang tak terlupakan.

Sampailah kita ditempat tujuan, aku baru tau jika Pesanggrahan Ambarbinangun merupakan cagar budaya yang berkaitan dengan Sri Sultan Hamengkubuana ke VI. Sampai disana kita langsung mendaftarkan diri, sempat terkejut karena antriannya banyak dan panjang, sempat berfikir ,’’ apakah kami telat?, mungkin tidak karena dibelakang kita pun masih banyak yang mengantri’’. Setelah mengantri cukup lama akhirnya kami mendaftar. Saat sesi mendaftar kegiatan ini sudah menggunakan alat alat yang canggih, seperti menggunakan googleMap, whatsApp, QR barcode, jadi seluruh informasi bisa diketahui. Lalu kami mendapatkan fasilitas Kaos Jelajah Budaya berwarna hitam merah dan buku panduan tempat  tempat bersejarah yang akan dikunjungi nanti. Dengan nomor dada 11 putri, kami langsung berganti pakaian. Setelah itu kami dikejutkan lagi oleh regu regu lainnya yang menghias diri dengan memakai kostum lengkap. Irinya regu kami kepada regu lain, karena regu kami tidak di lengkapi kostum. Tetapi dengan keyakinan kita tetap berusaha. Masih banyak giat prestasi yang diadakan.

Dipanggilnya semua regu 25 regu putri dan 25 regu putra untuk melaksanakan upacara Pembukaaan di depan Pesanggrahan Ambarbinangun. Dengan barisan terdepan ketua regu, benar aku adalah ketua regu putri, sempat tak menyangka kalau aku jadi ketua regu. Aku pandangi bangunan di depanku yaitu Pesanggrahan Ambarbinangun, memang bangunannya jaman dulu tetapi masih bagus, bisa ditempati dan instagramebel untuk foto. Bodohnya aku menggapa aku tak tahu bangunan bangunan yang bersejarah di daerahku sendiri. Saat selesainya upacara yang terlaksana dengan baik dan lancar di lepaskannya belasan burung agar tidak punah dan ditanamnya pohon nangka.

Saat perjalanan akan dimulai semua regu menyiapkan giat prestasi yel yelnya. Terutama regu ku juga menyiapkan yel yel kebangsaan. Dimulai dengan nomor dada 01 yel yel dilaksanankan. Sambil menunggu nomer dada kami  dipanggil kami berkenalan dan bertegur sapa dengan regu lain, alhasil kami memiliki banyak teman sekarang dan bisa bertukar pengalaman.

Setelah melakukan yel yel peserta langsung bergegas jalan ke Masjid Dongkelan dengan petunjuk kertas warna kuning berarti lurus, merah berarti kanan dan biru berarti kiri. Saat perjalanan regu kami berbarengan berjalan dengan regu putra nomer dada 08, yang tak lain adalah teman kami sendiri, kami berjalan bersama agar mudah dalam mendapatkan informasi. Sebelum  perjalanan dimulai kita diperintah untuk membuka aplikasi QR Barcode di android untuk mendeteksi kode informasi tempat,  kita juga diberi snack dan botol air mineral. Botol yang sudah kosong tidak boleh dibuang sembarangan, karena nanti bisa ditukar lagi dipos selanjutnya dengan air mineral baru. Dengan begitu para peserta Jelajah Budaya 2019 tidak membuang sampah sembarangan.

Perjalananan dimulai pukul 09.30 WIB menuju Masjid Dongkelan, kita mulai berjalan kaki mengikuti perintah yang diberikan. Berjalan bersama sama melihat lingkungan sekitar yang  masih asri. Beberapa kilo berjalan melewati gang dan jalan. Kaki kami lemas alhasil kami istirahat sebentar meminum air mineral. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Ada hal yang jangal dalam perjalanan, karena kita melewati sungai yang banyak sampahnya. Hal itu membuat kami terkejut karena tempat asri seperti Yogyakarta ini masih banyak orang yang membuang sampah. Miris. Saat perjalananpun banyak orang yang melihat kami dan kamipun pasti menyapanya dengan hati yang senang. Karena orang Yogya terkenal dengan ramahnya.

Setelah beberapa lama sampailah di pos pertama. Kami diberi perintah untuk mengisi pertanyaan, saat itupun kami mencari tempat yang teduh untuk mengerjakan soal. Soal yang diberikanpun ada dalam buku petunjuk. Kami merasa binggung dengan pertanyaan yang diberikan karena pertanyaan yang diberikan tentang Masjid Dogkelan, padahal kamipun belum melihat masjidnya. Dan ternyata kita hanya melewati Masjid Dongkelan dan tidak mengunjunginya. Pantas saja kami tidak melihatnya.

Kami bersepuluh langsung bergegas menuju tempat selanjutnya yaitu Panggung Krapyak. Beberapa kilo berjalan kaki kami semangat untuk ketempat selanjutnya. Penat, letih, berkeringat dan haus sudah menghampiri kita. Aku bertanya tanya,”apakah masih lama lagi?”. Ternyata belokan jalan selanjutnya kita disuguhi tembok putih besar. “wahhh……. keren banget”, ternyata inilah Panggung Krapyak yang besar berbentuk kubus. Tampak senyuman indah pada kami semua, sudah lupa pada penat dan letih. Sampailah di pos 2. Disana kami juga diberi perintah memalui aplikasi QR Barcode yang sudah berisi pertanyaan yang harus kita jawab tentang Panggung Krapyak. Ternyata tempat bersejarah ini dulunya sebagai tempat berburu binatang, terbagi atas 4 bagian yang dipisahkan oleh koridor. Bangunannya pun kokoh. Tak lupa kami menggambil gambar untuk giat prestasi fotografi. Perjalanan selanjutnya yaitu Dalem Wiranegaraan.

Perjalanan ke Dalem Wiranegaraan kita mulai bersemangat kembali karena tak sabar melihat bangunan bangunan sejarah. Dalam perjalanan perintah yang terlihat adalah warna kuning, kuning dan kuning, yang berarti kita harus lurus terus entah berapa kilo kita jalan. Akan tetapi ternyata kita melewati atas beteng. Baru aku tau kalau diatas beteng ada jalan lurus. Indah.

Terik matahari menyengat kulit, kami segera bergegas ke pos selanjutnya. Disana kami diberi perintah yang sama yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan bangunan bersejarah. Dengan diberi pertanyaan tentang hal tersebut aku jadi sedikit paham mengapa kita harus menjaganya dan melestarikanya.

Perjalanan terus berlanjut kami bergegas menuju Dalem Jayadipuran. Tempatnya asri, terawat dan tumbuh tanaman hijau segar, bisa merelaksikan tubuh yang panas ini. Disana kami diberi kertas untuk mengisi Sarasehan nanti, dan juga diberi kertas kecil untuk memilih regu terfavorit. Disana kami diberi makan siang, saat itu sudah masuk waktu dzuhur, waktunya ibadah sholat dzuhur. Disana ternyata tidak ada tempat sholat. Kami diberi petujuk kalau ada mushola di dekat sini. Alhasil kita harus ijin dulu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Pada saat sampai di mushola hujan deraspun datang. Kita harus menunggu hujan reda dulu baru bisa kembali lagi. Beberapa menit kemudian huja reda, kita lallu lari tergesa untuk mengikuti kegiatan sarasehan. Samapi di Dalem Wironegaran sarasehan sudah dimulai, untungnya sarasehan baru dimulai. Disana kami diberi masukan, saran, informasi mengenai bangunan bangunan bersejarah. Hati kecil kami terbesit akan bodohnya kami yang tidak tahu menahu tentang informasi yang amat penting ini.

Sesudah sarasehan berlangsung ternyata kita masih berjalan kaki lagi menuju Dalem Jayadipuran yang tak jauh dari Dalem Wironegaran. Dengan berjalan beriringan kami menyebrangi jalan raya. Selang beberapa menit sampailah kami di Dalem Jayadipuran. Tempatnya juga jaman dulu dan masih terawat karena masih digunakan. Disana kami berbaris untuk mengikuti upacara penutupan dan pengumuman para pemenang. Setelah upacara penutupan waktunya pembacaan para pemenang. Mulai dari pemenang giat prestai yel yel putra putri 1, 2 dan 3, tervavorit putra putri, dan terbaik putra putri 1, 2 dan 3.

Jantung ini serasa berhenti saat nomer dada 11 putri disebutakan dalam kategori juara 2 regu terbaik putri. Senang bercampur bangga dalam diri kami. Kostum memang bukan penentu juara. Tanpa kostumpun kami bisa mendapat juara. Majulah aku sebagai ketua regu untuk menerima piala dan sertifikat tersebut.

Saat acara selesai kami diberi sertifikat sebagai tanda bukti sudah mengikuti Jelajah Budaya 2019. Dan kita juga diberi tas punggung kekinian. Bangganya pendamping kepada kita, karena telah mendapatkan kejuaraan.

Dalam kegiatan Jelajah budaya 2019 merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena disana aku belajar bagaimana pentingnya keyakinan dalam diri, pedulinya kita terhadap sekitar. Mengetahui informasi tentang bangunan bangunan bersejarah. Pentingnya mengunjungi, melindungi dan melestarikan bangunan bersejarah daerah kita. Karena kitalah generasi selanjutnya yang bisa menjaganya.

 

 

Nama               : Dini Nur Laili

Sekolah           : SMAN 1 Pengasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Terbaru