Sietaqis SMAPTA Gelar Rihlah dan Praktik Manasik Haji di Semarang

Belajar tentang ibadah tidak selalu harus dimulai dari teks dan ruang kelas. Bagi Rohis SMAN 1 Pengasih (SIETAQIS SMAPTA), pemahaman tentang haji justru diperkenalkan melalui pengalaman langsung. Pada Sabtu, 10 Januari 2026, para anggota SIETAQIS SMAPTA mengikuti rihlah dan praktik manasik haji di Firdaus Fatimah Zahra, Semarang, sebagai upaya menanamkan pemahaman spiritual sejak usia remaja. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan keagamaan yang menekankan penguatan pemahaman ibadah sekaligus pembentukan karakter religius peserta didik.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 38 peserta, terdiri atas 35 anggota SIETAQIS SMAPTA dari periode kepengurusan 2024/2025 dan 2025/2026, serta tiga orang pembina. Rihlah dan praktik manasik ini dirancang sebagai ruang belajar di luar kelas yang memadukan aspek pengetahuan, pengalaman, dan pembentukan karakter.

Tiga pembina SIETAQIS SMAPTA yaitu Bapak Muhammad Zuhdi, Bapak Imam Choiril Muttaqin, dan Ibu Rizky Ramandhani turut mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung. Pendampingan dilakukan tidak hanya untuk memastikan kelancaran teknis, tetapi juga untuk menjaga proses pembelajaran tetap berada dalam kerangka nilai dan refleksi keagamaan.

Secara organisatoris, kegiatan ini dikoordinatori oleh Bintang Surya P, dengan dukungan panitia yang terdiri dari Garda Satrio W, Bias Fransputra, Wening Ninda P, Husna Nurul A, Vika Septi R, dan Dias Betrik T. Panitia merancang kegiatan ini dengan tujuan memperkenalkan tata cara ibadah haji secara utuh, sekaligus membantu peserta memahami makna Rukun Islam kelima secara lebih kontekstual.

Praktik manasik dipandu oleh H. Mudzakir, pembimbing manasik asal Semarang. Dalam sesi tersebut, ia menjelaskan setiap tahapan ibadah haji dan umrah secara sistematis, disertai penjelasan mengenai nilai-nilai spiritual yang menyertai setiap ritual. Pendekatan ini memungkinkan peserta tidak hanya menghafal urutan ibadah, tetapi juga memahami esensi di balik setiap rangkaian manasik.

Bagi SIETAQIS SMAPTA, kegiatan ini bukan semata simulasi ibadah, melainkan bagian dari pendidikan keagamaan jangka panjang. Pengenalan praktik haji sejak usia sekolah diharapkan dapat membentuk kesadaran religius, kedisiplinan, serta kesiapan spiritual peserta dalam menjalani kehidupan beragama di masa depan.

Melalui rihlah dan praktik manasik haji ini, SIETAQIS SMAPTA menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan keagamaan yang tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi juga menyentuh dimensi pengalaman dan refleksi, sebuah upaya kecil untuk membumikan nilai-nilai ibadah dalam proses pendidikan.

2 Responses

Tinggalkan Balasan ke Yajid Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Terbaru